Kajian Terhadap Kebudayaan Madura Sebagai Bentuk Usaha Pelestarian Budaya Lokal

Oleh: Lukman

Madura memiliki kekayaan kesenian tradisional yang amat banyak, beragam dan amat bernilai. Dalam menghadapi dunia global yang membawa pengaruh materalisme dan pragmatisme, kehadiran kesenian tradisional dalam hidup bermasyarakat di Madura sangat diperlukan, agar kita tidak terje bak pada moralitas asing yang bertentangan de ngan moralitas lokal ataujati din bangsa. Kita sebagai orang asli Madura harus mengenal budaya Madura yang masih hidup, bahkan yang akan dan telah punah. Pengenalan terhadap berba gai macam kebudayaan Madura tersebut akan diharapkan mampu menggugah rasa kebangsaan kita akan kesenian daerah.

Madura dikenal sebagai wilayah yang tandus namun kaya akan kebudayaan. Kekayaan budaya yang terdapat di Madura dibangun dari berbagai unsur budaya baik dari pengaruh animisme, Hin duisme dan Islam. Perkawinan dari ketiga unsur tersebut sangat dominant mewamai kebudayaan yang ada. Dalam perkembangannya berbagai kese nian yang bemafaskan religius, terutama benuansa Islami temyata lebih menonjol. Keanekaragaman dan berbagai bentuk seni budaya tradisional yang ada di Madura menunjuk kan betapa tinggi budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Kekayaan seni tradisional yang berisi nilai-nilai adiluhur yang berlandaskan nilai religius Islami seharusnya dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi muda sebagai penerus warisan bangsa. Kesenian tradisional adalah aset kekayaan budaya lokal yang akan mampu melindungi gene rasi muda dari pengaruh negatif era globalisasi. Pengaruh budaya global yang demikian gencar melalui media elektronik dan media cetak menye babkan generasi muda kehilangan jati diri.

Dengan mengetahui kebudayaan lokal diharapkan generasi muda mampu menggali potensi kekayaaan seni tradisional sekaligus melestarikannya. Secara garis besar jenis-jenis kebudayaan tra disional Madura dapat dibagi dalam empat kelom pok dan dari masing-masing kelompok tersebut mempunyai tujuan maupun fungsi yang berbeda, adapun jenis-jenis kebudayaan tradisional tersebut adalah:

Pertama, seni musik atau seni suara yaitu tembang macapat, musik saronen dan musik ghul-ghul. Tembang macapat adalah tembang (nyanyian) yang mula-mula dipakai sebagai media untuk memuji Allah SWT (pujian keagamaan) di surau-surau sebelum dilaksanakan shalat wajib, tembang tersebut penuh sentuhan lembut dan membawa kesahduan jiwa.

Selain berisi puji-pujian tembang tersebut juga berisi ajaran, anjuran serta ajakan untuk mencintai ilmu pengetahuan, ajaran untuk bersama-sama membenahi kerusakan moral dan budi pekerti, mencari hakekat kebenaran ser ta membentuk manusia berkepribadian dan berbu daya. Melalui tembang ini setiap manusia diketuk hatinya untuk lebih memahami dan mendalami makna hidup. Syair tembang macapat merupakan manivestasi hubungan manusia dengan alam, serta ketergantungan manusia kepada Sang Penguasa Alam Semesta. Contoh tembang macapat:

Mara kacong ajar onggu, kapenterran mara sare,
Ajari eimo agama, eimo kadunnya ‘an pole,
Sal a settongja pabidda, ajari bi onggu ate.
Nyare eimo patar onggu,
Sala settongjapaceccer,
Eimo kadunnyaan reya,
Menangka sangona odhi
Dineng eimo agama, menangka sangona mate.
Paccowan kenga ‘e kacong, sombajangja ‘la ‘el/a ‘e,
Sa ‘are samalem coma,
Salat wajib lema kale,
Badha pole salat sonnat, rawatib ban salat lail (anggoyudo, 1983)

Seni musik atau seni suara selanjutnya adalah musik saronen. Beberapa atraksi kesenian Madura pengiring instrumen musiknya adalah saronen. Mu sik ini adalah musik yang sangat kompleks dan ser baguna yang mampu menghadirkan nuansa sesuai dengan kepentingannya. Walaupun musik saronen adalah perpaduan dari beberapa alat musik, namun yang paling dominan adalah liuk-liukan alat tiup berupa kerucut sebagai alat musik utama, alat musik tersebut bernama saronen.

Musik saronen bersal dari desa Sendang Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep yang berasal dari kata senninan (hari Senin)
Suku Madura terkenal sebagai suku berwatak keras, polos, terbuka dan hangat, sehingga jenis musik riang dan berirama mars menjadi pilihan yang paling pas. Untuk mengiringi kerapan sapi dimain kan irama sarka yaitu permainan musik yang cepat dan dinamis, sedangkan irama lorongan jhalan (irama sedang) dimainkan pada saat dalam perjalanan menuju lokasi kerapan sapi.

Irama lorongan toju’ biasanya memainkan lagu-lagu gending yang beri rama lembut, biasanya digunakan untuk mengiringi pengantin keluar dan pintu gerbang menuju pintu pelaminan. Jenis seni musik atau sent suara selan jutnya adalah musik ghul-ghul yaitu didominasi oleh gendang (ghul-ghul). Namun dalam perkemba ngannya permainan musik ini memasukkan alat musik lainnya, baik alat musik tiup maupun alat musik pukul.

Ciri spesifik dari alat musik ini adalah terletak pada model gendang yang menggelem bung besar di bagian tengah. Musik ghul-ghul ini diciptakan untuk mengiringi merpati ketika sedang terbang. Iringan musik ini dipakai sebagai sarana hiburan bagi organisasi (perkumpulan) “dara get tak” , ketika membentak kemudian merpati dilepas ke udara, musik ini ditujukan untuk menyemarak kan suasana, musik ghul-ghul ini berasal dari desa Lenteng Timur Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep.

Kedua, sent tari atau gerak yaitu tan muang sangkal dan tari duplang. Gerakan tari tradisional Madura tidak pemah terlepas dari kata-kata yang tertera dalam Al-Quran seperti kata Allahu atau Muhammad, begitu pula dengan batas-batas gerakan tangan tidak pemah melebihi batas payudara. Tari muang sangkal adalah sent tradisi yang bertahan sampai sekarang, Tari tersebut telah mengalami berbagai perubahan yaitu menjadi tarian wajib untuk menyambut tamu-tamu yang datang ke Sumenep.

Sedangkan Tari duplang meru pakan tari yang spesifik, unik dan langka. Keunikan dari tarian ini disebabkan karena tarian ini merupa kan sebuah penggambaran prosesi yang utuh dari kehidupan seorang wanita desa. Wanita yang be kerja keras sebagai petani yang selama ini terlupakan. Dijalin dan dirangkai dalam gerakan-gerakan yang sangat indah, lemah-lembut, dan lemah gemulai. Tarian ini diciptakan oleh seorang penari keraton bernama Nyi Raisa. Generasi tera khir yang mampu menguasai tarian ini adalah Nyi Suratmi, dan tarian ini jarang dipentaskan setelah adanya pergantian sistem pemerintahan, peralihan dari sistem raja ke bupati. Sejak saat itu tarian ini jarang dipentaskan.

Karena tingkat kesulitannya yang sangat tinggi, sehingga banyak penari segan untuk mempelajarinya, maka tidak mengherankan apabila tarian duplang kini tidak dikenal dan diingat lagi oleh seniman-seniman tari generasi berikutnya. Dengan demikian tarian ini benar-benar punah.

Ketiga, upacara ritual yaitu sandhur pantel. Masyarakat petani atau masyarakat nelayan tradi sional Madura menggunakan upacara ritual seba gai sarana berhubungan dengan mahluk gaib atau media komunikasi dengan Dzat tunggal, pencipta alam semesta. Setiap melakukan upacara ritual media kesenian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari seluruh proses kegiatan. Masyarakat Madura menyebutnya sandhur atau dhamong ghardham, yaitu ritus yang ditarikan, dengan ber bagai tujuan antara lain, untuk memohon hujan, menjamin sumur penuh air, untuk menghormati makam keramat, membuang bahaya penyakit atau mencegah musibah, adapun bentuknya berupa ta rian dan nyanyian yang diiringi musik.

Daerah-daerah yang mempunyai kesenian ini menyebar di wilayah Madura bagian timur. Batuputih terdapat ritus rokat dangdang, rokat somor, rokat bhuju, rokat thekos jagung. Di Pasongsongan terdapat sandhur lorho’. Di Guluk-guluk terdapat sandhuran duruding, yang dilaksanakan ketika panen jagung dan tembakau, berupa nyanyian laki-laki atau perempuan atau keduanya sekaligus tanpa iringan musik.

Musik langsung dimainkan oleh peserta de ngan cara menirukan bunyi dari berbagai alat musik. Di lingkungan masyarakat tradisional yang masih mempercayai ritual sandhur panthel yang diguna kan sebagai media penghubung dengan sang pencipta. Namun ritual ini sebenarnya bertenta ngan dengan agama Islam dan tidak pula diajarkan dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasul, jadi ini merupa kan suatu bid’ah dan haram hukumnya jika dilaksanakan.

Berbagai bentuk kesenian adalah aset keka yaan budaya lokal yang akan mampu melindungi anak bangsa dari berbagai hantaman budaya global. Pengaruh budaya global memang saat ini demikian gencamya, mengalir dari berbagai pintu media massa, sehingga menyebabkan generasi muda kehilangan jati dirinya. Kekayaan seni budaya yang dimiliki oleh suku bangsa di Indonesia lambat laun akan punah, hal itu disebabkan oleh ketidakacuhan dari berbagai unsur, baik pihak pe merintah daerah, instansi pemerintah, tokoh formal maupun informal, masyarakat ataupun kaum generasi muda. Namun yang sangat penting untuk diperhatikan dalam hal ini, apakah budaya itu pantas atau sesuai dengan ajaran agama Islam…!?? Jika tidak sesuai, maka budaya itu tidaklah wajib dilestarikan.

Keempat, seni pertunjukan berupa kerapan sapi dan topeng dalang. Perlombaan memacu sapi pertama kali diperkenalkan pada abad ke 15 (1561 M) pada masa pemerintahan Pangeran Katandur di keratin Sumenep. Permainan dan perlombaan ini tidak jauh dari kaitannya dengan kegiatan seha ri-hari para petani, dalam arti permainan ini mem berikan motivasi kepada kewajiban petani terha dap sawah ladangnya dan disamping itu agar peta ni meningkatkan produksi temak sapinya.

Namun, perlombaan kerapan sapi kini tidak seperti dulu lagi dan telah disalahgunakan sehingga lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. Ma salahnya banyak di antara para pemain dan penon ton yang melupakan kewajibannya sebagai hamba Allah SWT, yakni mereka tidak lagi mendirikan sha lat (Lupa Tuhan, ingat sapi). Kerapan sapi memang telah menjadi identitas, trade mark dan simbol keperkasaan dan kekayaan aset kebudayaan Madura.

Di sektor pariwisata, kerapan sapi mempakan pemasok utama Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah (APBD), karena dari sektor ini para wisata wan mancanegara maupun domestik datang ke Madura untuk menyaksikan kerapan sapi. Namun sangat disayangkan karena yang terjadi saat ini, para wisatawan mancanegara maupun domestik sudah tidak lagi mau datang untuk menonton per lombaan kerapan sapi, hal ini disebabkan karena mereka melihat adanya penyiksaan terhadap bina tang dengan memberikan sesuatu benda tajam dan lainnya kepada sapi, agar sapinya berlari lebih kencang dan menjadi pemenang. Selain itu, tidak sedikit dari penonton yang menjadikan perlombaan kerapan sapi sebagai arena pertaruhan judi. Maka pantaskah budaya ini terus dilestarikan lagi, jika begini jadinya..??

Seni pertunjukan selanjutnya adalah topeng dalang, konon topeng dikatakan sebagai kesenian yang paling tua. Adapun bentuk topeng yang di kembangkan di Madura berbeda dengan topeng yang ada di Jawa, Sunda dan Bali. Topeng Madura pada umumnya lebih kecil bentuknya dan hampir semua topeng diukir pada bagian atas kepala de ngan berbagai ragam hias. Ragam bias yang paling populer adalah hiasan bunga melati.

Adapun penggambaran karakter pada topeng dalang selain tampak pada bentuk muka juga dalam pemilihan wama, untuk tokoh yang berjiwa bersih digunakan wama putih, wama merah untuk tokoh tenang dan penuh kasih sayang, wama hitam untuk tokoh yang arif dan bijaksana bersih dari nafsu duniawi, kuning emas untuk tokoh yang anggun dan berwibawa, warna kuning untuk tokoh yang pemarah, licik dan sombong.

Setiap pementasan topeng dalang seluruh pemainnya didominasi laki-laki, penari sebanyak kira-kira 15-25 orang dalam lakon yang dipentaskan semalam suntuk, adapun aksesoris nya adalah taropong, sapiturung, ghungseng, ka long, rambut dan badung. Sedangkan untuk peme ran wanita aksesoris tambahannya adalah berupa sampur, kalung ular, gelang dan jamang. Teater topeng dalang Madura adalah satu-satunya teater tradisional yang mampu menaikkan pamor seni tradisi. Di era tahun 80-an sampai dengan tahun 90-an topeng dalang Sumenep melanglang buana sampai ke benua Amerika, Asia dan Eropa, kota-kota besar yang disinggahi adalah London, Amsterdam, Belgia, Perancis, Jepang dan New York.

Penampilan seni tradisional ini mampu memikat, memukau dan menghipnotis serta menimbulkan decak kagum para penonton, begitu hangat sam butan masyarakat intemasional terhadap kesenian topeng dalang. Namun sangatlah disayangkan, kekaguman yang pemah dibangun oleh para dalang di masa lalu, saat ini mulai pudar karena ti dak adanya peminat, kesenian ini mulai berkurang terutama di masyarakat perkotaan, karena diang gap ketinggalan zaman. Saat ini pementasannya hanya dilakukan di daerah pinggiran yang masih peduli dan mencintai kesenian ini.

Seni teater tra disional yang dimiliki suku bangsa Madura menun jukkan betapa tinggi nilai budaya yang dimiliki oleh suku bangsa ini. Nilai-nilai adiluhur yang berlandas kan nilai keagamaan, seharusnya diperkenalkan kembali kepada generasi penerus sebagai pemilik sah atau pewaris budaya. Apalagi regenerasi ser ta pelestarian dikemas dalam bentuk yang luwes dan fleksibel sesuai dengan perkembangan yang ada. Sebagaimana wali songo menjadikan media ke senian sebagai sarana dakwah tanpa kehilangan nilai-nilai filosofi serta jati diri.

Maka dengan demikian, pihak Pemerintah Daerah, masyarakat, dan khususnya generasi muda pelajar saat ini hams menjadi tonggak sebagai pe lestari budaya daerah Madura, agar budaya yang telah ada tidak hilang atau punah dan akan terus menjadi kebanggaan bangsa. Namun budaya itu juga hams sesuai dan tidak lepas dari norma atau aturan agama Islam, sehingga tidak termasuk budaya yang tidak diperbolehkan dan haram menurut agama. Sekian dan Terima kasih. []

[sumber: http://tabloid_info.sumenep.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1186&Itemid=32%5D

3 Responses to “Kajian Terhadap Kebudayaan Madura Sebagai Bentuk Usaha Pelestarian Budaya Lokal”


  1. 1 ndul November 14, 2008 at 11:33 am

    perbanyak lagi data tentang kebudayaan Madura tercinta…tq

  2. 2 Yahya January 15, 2009 at 9:38 am

    Sholawat badar (yang diselipi dengan syi’ir tentang Sifat Wajib Allah, Rukun Islam, Rukun Iman, Fardhlunya Wudhlu dan Sindiran2 lainnya)

    Sholatullah Salammullah ‘ala toha rosulillah
    Sholatullah Salammullah ‘ala yasiin habiillah

    Allah Wujud, Qidam, Baqo’
    Mukholafatu, Lil Hawaditsi
    Qiyamuhu, Binnafsihi..
    Wahdaniyah, Kodrat, Irodat

    Ilmu. Hayya, Sama’, Basor
    Kalam, Qodiron..
    Al Muriddan, Kaliman, Hayyan
    Sami’am, Bashiron, Mutakaliman

    Eling siro kang sak nyoto
    Rukune Islam kang limo
    Kang sepisan moco sahadat
    Tekatno lan ngucap siro

    Kaping pindo iku sholat
    Ono ing fardu kang limo
    Kaping telu aweh zakat
    Lamun siro sugih bondo

    Kaping papat iku poso
    Ono ing wulan romadhon
    Kaping limo ziaroh haji
    Aneng Mekah lamun kuoso

    Lan malih rukune Iman
    Yoiku enem perkoro
    Kang sepisan imano siro
    Ing Alloh Pangeran kito

    Kaping pindho imano siro
    Ing malaekate Gusti Alloh
    Kaping telu imano siro
    Sekehing kitabe Alloh

    Kaping papat imano siro
    Ing utusane Pangeran kito
    Kaping limo imano siro
    Dino kiamat mesti ono

    Kaping enem imano siro
    Ing pepesthening Gusti Alloh
    Olo becik iku nyoto
    Kersaning Pangeran kito

    Lan malih rukune wudlu
    Yoiku enem perkoro
    Kang sepisan niat kelawan ati
    Kaping pindho masuh rai

    Kaping telu masuh astane loro
    Kaping papat ngusap sirah
    Kaping limo masuh sukune loro
    Kaping enem iku tertib

    Eling-eling siro manungso
    Temenono anggonmu bekti
    Mumpung during katekanan
    Malaekat juru pati

    Moloekat juru pati
    Lirak lirik marang siro
    Nggone nglirik angenteni
    Dawuhe kang moho suci

    Cilik cilik diwulang ngaji
    Besok gede supoyo ngerti
    Agomo islam agomo suci
    Sopo ra ngaji awake rugi

    Rugi donya ra dadi opo
    Rugi akherat bakal ciloko
    Sopo wae ra iso mbelo
    Kurang bejo mlebu neroko

    Emane yen dadi wong sugih
    Golek bondho ra wigah-wigih
    Barang haram digowo mulih
    Neng akhirat bakal ditagih

    Eman ugo yen dadi wong mlarat
    Akeh dosa neng ra tobat-tobat
    Gaweane mung nunggu zakat
    Opo maneh yen ora sholat

    Eman maneh yen sugih bondho
    Pengin opo wae mesti iso
    Neng ra sadar kakehan dosa
    Suk yen mati bakal ciloko

    Emane yen dadi pedagang
    Ngalor ngidul dodolan barang
    Golek bathi ra kurang-kurang
    Neng sholate do arang-arang

    Eman uga yen dadi petani
    Mengkat esuk ngarap pari
    Wektu luhur dilewati
    Sholat ngasar nganti lali

    Eman maneh yen dadi bakul
    Nggowo barang ngalor ngidul
    Golek pangan nggo isi wakul
    Neng sholate do podo ucul

    Paling eman yen dadipejabat
    Gaweane mung rapat-rapat
    Omong lamis ngapusi rakyat
    Opo maneh do ora sholat

    Kyai Abdul Basir sempat menyempaikan beberapa topik dengan bait-bait shalawat dengan syair -syair Jawa.. berikut sedikit petikannya:

    Hasbunallohwa ni’mal wakkil
    Ni’mal mawla wa ni’man Nasir

    La haula wala quwata
    Ila billahil ‘aliyil ‘adhim

    Urip kudu sing ati ati
    Amal becik do dilakoni
    Golek ridhane kang moho suci
    Neng akherat bakale mukti

    Karcis swargo kuwi murah
    Neng akeh sing podo wegah
    Karcis neroko kuwi larang
    Sing seneng kok pirang-pirang

    Urip saiki kudu waspodo
    Godaane werno-werno
    Halal haram ra pati cetho
    Salah pilih bakal ciloko

    Werkudoro gambare wayang
    Gatotkoco iso mabur
    Ayo konco do sembahyang
    bakal slamet neng ngalam kubur

    Seperti sepotong lagu yang sempat kami rekam waktu pulang kampung ke Purworejo kemarin
    Berikut petikannya :
    ……..
    eling eling siro manungso
    kito sedoyo bakale sedo

    kito sedoyo bakale mulih
    diklambeni sandangan putih
    diklambeni sandangan putih

    ditumpake kereto jowo
    rodo papat rupo menungso

    di dusi nganggo banyu kembang
    tonggo tonggo podho nyawang
    do tangisan koyo wong nembang
    do tangisan koyo wong nembang

    siro mati bondho ra melu
    bojo ayu bejo sing nemu

    ning kuburan podho tangisan
    ditinggal mati nggrayah warisan
    ditinggal mati wegah tahlilan

    eling eling siro manungso
    ojo podho rebutan bondho

    simbah simbah ayo ngibadah
    najan umur wis ora tambah
    simbah simbah yen ra ngibadah
    ning akherat bakale susah
    ning akherat bakal dipisah

    awit cilik diwulang ngaji
    besok gedhe ben dadi santri
    ojo seneng ngombeni wisky
    opo meneh pil ekstasi
    doyan wadon karo maen judi

    yen wong urip amale kurang
    suk nek mati cemplungke jurang
    najan kere amale gedhe
    ning suargo dipakani sate
    ning akherat dipenak penake

    cekap semanten panglipur kulo
    tembang kulo tembang wong jowo
    menawi lepat nyuwun ngapuro
    nyuwun ngapuro kalih nyuwun arto
    nyuwun arto gawe tumbas sego

    sing maringi , tak dongakke slamet
    sing ra maringi , yo kebangeten banget
    sing ethok2 turu , tak dongakke slamet
    ning sithik wae..

    Sangu Pati
    July 12th, 2008 by berliana79

    Eling – eling siro manungso
    Ngelingono anggonmu sholat lan ngaji
    Mumpung durung ketekan malaikat juru pati ( Iszro’il )

    Panggilane kang moho Kuwoso
    Gelem ra gelem bakal di gowo
    Den saline sandangan putih
    Yen wes budal ra biso mulih.

    Tumpakane kereto jowo
    Roda papat rupa manungso
    Jujugane omah guwo
    Tanpo bantal tanpo kloso

    Omahe ra ono lawange
    turu ijen ra ono kancane
    Di tutupi anjang- anjang
    Diurug lan di siram kembang

    Tonggo – tonggo podo nyawang
    Tangisane koyo wong nembang
    Yen ngijik ayang- ayang
    Pertondho imane kurang

    Kelingan dhek emben, ana tembang puji-pujian mengkene;

    Eee….sedulur yen wis krungu ana adzan
    mlebu mejid ngelingana kuwajiban
    sholat sunat aja nganti ketinggalan
    tunggu imam sinambi puji-pujian

    ( ora njur malah padha ndopok nang njero mesjid )

    Eeee…..manungsa rukun islam ana lima
    syahadat sholat pasa, zakat haji genep lima
    sholat iku penting bisa nyegah laku ala
    sak jeroning sholat mengku donga warna-warna

  3. 3 Mas Joko January 30, 2009 at 6:54 am

    ada data kemiskinan terbaru nggak di sampang? trims


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: